Sumber Data Yang Dapat Dimanfaatkan Untuk Online Marketing. Ide bisnis sejatinya dapat datang darimana saja, dari nongkrong di WC hingga nongkrong di cafe, dari merenung sendirian hingga hasil ngobrol ngalor-ngidul dengan orang di sekitar.

Tetapi, sekali lagi, tak semua ide semoncer yang kita pikir dan bayangkan. Tak semuanya tepat. Kebanyakan justru kurang masuk akal :v

Untuk itulah kita membutuhkan “data” sebagai acuan sebelum memutuskan untuk mengeksekusi sebuah ide.

Secara prinsip, data itu sederhana. Jika saat ini bisnis Anda menggunakan pola ATM (amati, tiru, modifikasi) atau ATP (amati, tiru plek), maka sebetulnya Anda sudah memanfaatkan data.

Diibaratkan berkendara, Anda tentu sudah tidak lagi berjalan dengan mata tertutup. Sebab apa “jalan” bagi orang lain diatas kertas juga seharusnya “jalan” bagi Anda.

Bayangkan suatu hari Anda berkunjung ke kota tetangga, kemudian masuk di sebuah restoran yang ramainya luar biasa yang belum ada di tempat Anda. Maka, membuka restoran tersebut di kota Anda yang Anda duga memiliki karakteristik masyarakat yang sama, boleh jadi adalah jalan yang tepat dan alamat keberhasilan.

Boleh jadi …

Tetapi itu saja belum cukup. Sebagai pebisnis, kita perlu meminimalisir sebanyak mungkin risiko. Dan untuk dapat melakukannya, kita membutuhkan lebih banyak lagi data.

Semakin terang datanya, semakin terang lampu kendaraan kita. Semakin mudahlah ia melewati jejalan pada malam tanpa cahaya :v

Beruntung sebagai pebisnis online, kita dapat mencari atau mendapatkan data yang jauh lebih mudah dan jauh lebih empiris ketimbang dunia offline yang terkadang butuh tenaga dan waktu ekstra atau lembaga survey terpercaya.

Maka lupakan urusan restoran diatas, mari melompat ke persoalan data yang ada di habitat kita : internet.

Jenis-Jenis Data

Setidaknya ada 2 jenis data yang bisa dimanfaatkan oleh para internet marketer. Sebut saja namanya data A dan data B.

Data A : data yang sudah ada dan tersedia untuk digunakan, dianalisa dan dimanfaatkan lebih jauh oleh para pebisnis online. Data ini diperoleh dari sumber-sumber terpercaya yang hampir seluruhnya bersifat gratis.

Data B : data yang dicari dari diperoleh dari hasil test. Istilah “bakar duit” untuk “beli data” menggambarkan karakteristik dari data B.

Supaya lebih jelas, mari kita bahas satu per satu.

Data A

Platform online tanpa kolom search seperti makan pempek ga pake cuko, terasa kurang gimana gitu :v

Tengok saja berbagai platform, dari mulai search engine, social media, forum, e-commerce sites hingga blog, hampir semuanya menyediakan kolom pencarian (search) bagi user untuk mencari yang diinginkannya.

Tentu saja orang melakukannya dengan memasukkan text berupa kata-kunci atau keywords.

Dan itu adalah aktivitas online yang paling banyak dilakukan di muka Bumi. Sebab jika tidak, Google tidak akan menjadi situs nomor 1 di dunia selama bertahun-tahun.

Kabar baiknya, pencarian-pencarian tersebut dicatat dengan sangat rapi oleh Google (dan banyak third party lainnya) menjadi data yang dapat diambil, dibaca dan dimanfaatkan bahkan secara gratis!

Google Keyword Planner

Sebagai pelaku bisnis online yang mengelola cukup banyak website, saya menggunakan Google Keyword Planner (GPK) secara rutin untuk mencari keywords yang akan diubah menjadi konten dan dioptimasi secara organic atau via paid ads.

  • Keywords dengan volume pencarian : demand
  • Optimized content based on keywords : supply

Setiap kali ada ide atau masukkan, setiap kali itu pula saya selalu melakukan research menggunakan GKP untuk mengetahui setidaknya 3 hal sebelum melanjutkan pekerjaan lain : (1) apakah ada demand, (2) seberapa besar dan (3) bagaimana trendnya.

Tentu saja setiap keyword nantinya dapat dihubungkan secara langsung maupun tidak langsung dengan produk, jasa atau penawaran yang ingin “dijual”.

Selain GKP, kita juga dapat menggunakan banyak sekali sumber dan tools data lain yang tersedia.

Berikut beberapa catatannya :

Google trends – digunakan untuk menemukan trend pencarian dan hot products. Ada banyak keywords yang belum ditampilkan di GKP yang terdapat di Google Trends. Memanfaatkan Google Trends dapat membantu kita mencuri start dan menjaga momentum.

Marketplace & e-commerce – untuk produk fisik, kita dapat memanfaatkan marketplace atau situs e-commerce. Data yang bisa diperoleh adalah tingkat kelakukan, range harga dan level persaingan. Manfaatkan berbagai situs berikut untuk memperoleh data yang dibutuhkan : Amazon, Ebay, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, dll. Cari tahu, apakah produk yang sedang atau akan kita jual itu laku atau tidak.

Social media – gali sebanyaknya data dari Facebook, Youtube, Instagram, Pinterest dan lain sebagainya sebelum membuat marketing plan.

– dan 1001 sumber lainnya.

Intinya, semakin banyak data, semakin terang-benderang, semakin minimal risiko kegagalan.

By the way, meski demikian …

Bukan pula hal yang mustahil untuk mewujudkan ide yang tidak didukung oleh data. Saya tidak pernah mengatakannya.

Faktanya “thinking outside the box” kerap berjalan hanya berdasarkan inovasi, keyakinan dan persistensi (persistence = ngotot).

Hanya saja, untuk menjalankannya kita membutuhkan lebih banyak effort. Baik itu waktu, tenaga dan uang. Ingat, edukasi itu sulit, merubah mindset itu mahal.

Dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan melakukan test yang akan menghasilkan data baru, yakni salah satu jenis data yang akan dibahas di data B.

(Detail yang lebih teknis tentang data A rencananya akan saya buatkan di notes selanjutnya karena kelewat panjang kalau dimasukkan sekaligus disini.)

Data B

to be continued, hanya jika sharenya bejibun :v