Cara Untuk Memperoleh Data Melalui FB Ads. Sebelum menuntaskan catatan kali ini, ada baiknya Anda terlebih dahulu membaca 2 catatan lalu berjudul Data Marketing 101 dan Data Marketing 102, sekedar untuk refresh ingatan.

Jika sudah, mari kita ungkap puzzle yang masih semerawut itu ^_^

Selamat datang di Data Marketing 103

Data Marketing 103

As we know, pada catatan sebelumnya saya memberikan metode untuk mengkonfirmasi data yang sudah ada untuk produk-produk yang sudah memiliki “pasar”, yaitu gembok alarm.

Nah, kali ini kita akan fokus membahas bagaimana cara untuk memperoleh data yang belum tersedia dan belum dapat dikonfirmasi. Data ini saya namakan data B, dan akan dicari menggunakan platform kaporit kita semua, FB Ads 🙂

Supaya mudah, kita ambil contoh sebuah produk, sebut saja namanya “Kursi jomblo” :v

Apa itu “Kursi jomblo”? Saya pun tidak tahu. Kan cuma contoh :v

Seterusnya, supaya ringkas kita sebut produk “Kursi Jomblo” sebagai KJ.

Andaikan saja, KJ adalah sebuah produk bagus yang memiliki beragam fitur menarik bagi para jomblo supaya cepat punya pacar. Kita pun meyakini dan percaya pada kemampuan KJ.

Kursi Jomblo :v

Sayang beribu sayang, produk sebagus ini sama sekali belum memiliki data yang mendukung.

Padahal, setelah proses brainstorming dan bertapa 3 hari 3 malam di puncak gunung kembar, kita tahu jika market KJ sangat besar, diantaranya :

  • Para jomblo
  • Keluarganya para jomblo
  • Teman-temannya para jomblo
  • dst

Keyakinan tersebut menjadi bekal permulaan bagi kita untuk melakukan kampanye marketing.

Punya produk bagus tanpa dipromosikan, itu seperti berkedip kepada gadis cantik dalam kegelapan – Steuart Henderson.

Secara garis besar, langkah untuk menemukan calon pembeli KJ adalah dengan melakukan serangkaian tes, sembari mengumpulkan dan mencari data.

Off course, karena KJ belum dikenal dan belum memiliki demand, pilihan marketing menggunakan ads menjadi jalan yang paling ringkas dan cepat.

Let’s burn the money 😀

Ada 2 model penjualan KJ yang bisa ditempuh, yakni hardselling dan softselling, dan kita harus mencoba keduanya.

Tapi sebelum itu, pastikan untuk membuat sebuah sales/landing page yang bagus supaya traffic yang dikirimkan tidak sia-sia. Jika itu sales page, pastikan shopping cart system-nya jalan atau instruksi pembeliannya jelas (apabila tanpa shopping cart).

Jika itu squeeze page, pastikan infonya menarik, lead magnetnya maknyus dan optin-nya mamamiah perfecto.

Kalau sudah, jalankan beberapa campaign dengan ads copy menggelegar. Jika itu image, pastikan mengandung clickbait. Jika itu video, pastikan suaranya jelas.

  • Clickbait meningkatkan CTR, memurahkan biaya
  • Audio membuat orang betah. Penonton lebih dapat berkompromi dengan kualitas video yang jelek daripada kualitas audio yang kacau.

Jika semua sudah siap, selanjutnya lakukan tes untuk beberapa adset dengan budget minimum selama 3 hari, at least $5 per hari.

  • Pilih CPE untuk copyads yang menarik dan informatif.
  • Pilih CTW untuk copyads yang menimbulkan rasa penasaran.
  • Tanam pixel di sales/landing page.
  • Tentukan buyer persona dari campaign, apakah untuk jomblo langsung, apakah untuk keluarganya, apakah untuk teman-temannya.
  • Biarkan interest kosong dan setel hanya demografis saja. Alasannya karena saya tidak tahu apa interestnya para jomblo :v Namun jika Anda bisa memikirkannya, silahkan target menggunakan interest.
  • Tentukan target demografis berdasarkan buyer persona.

Dalam kuran waktu 3 hari, kita seharusnya sudah memperoleh berbagai macam data awal yang dibutuhkan, yakni :

  • Penjualan (jika ada)
  • Data leads
  • Data buyer

Selain itu, kita juga memperoleh data penting lainnya, yakni :

  • Buyer persona mana yang paling oke / convert
  • Copy ads mana yang paling oke / convert
  • Demografis mana yang paling oke / convert

Kita pun dapat memanfaatkan data yang dikumpulkan FB Pixel untuk :

  • Retargeting
  • Membuat lookalike audience

Dari semua data yang terkumpul, barulah kemudian kita dapat memilih mana-mana saja campaign yang menguntungkan, mana-mana saja campaign yang merugikan. Tujuannya adalah untuk melakukan scaling sebagai upaya untuk memperkecil risiko dan memperbesar profit. Apalagi? :v

the hepeng 🙂

Supaya lebih jelas, saya akan memperlihatkan screenshot data yang diperoleh dan cara ringkas untuk membacanya.

Dan karena KJ itu tidak pernah ada (kan cuma contoh :v), maka saya akan memperlihatkan data dari produk lainnya yang saya miliki :

breakdown data by gender and age

Dari data diatas, kita dapat mengetahui jika :

  1. Male dengan rentang umur 25-34 merupakan target paling bagus.
  2. Male dengan rentang umur 35-44 merupakan target kedua terbagus.
  3. Male dengan rentang umur 45-54 merupakan target ketiga terbagus.
  4. Female dengan rentang umur 18-24 dan 35-44 merupakan target yang memberikan cost termurah dan potensial.
  5. Female dengan tentang umur 25-34 merupakan target yang tidak bagus.

Maka, selanjutnya kita dapat melakukan scaling dengan cara :

  • Memperbanyak tampilan iklan pada kelompok nomor (1), (2), (3) dan (4) dengan memperbesar budget.
  • Mematikan atau melakukan tes ulang pada kelompok nomor (5) dengan menghilangkan atau memperkecil budget.

Selain breakdown berdasarkan kelamin dan usia, kita juga dapat melakukan analisa berdasarkan negara, wilayah, placement, device dan waktu terjadinya konversi.

Catatan :

  • Meski KJ hanya contoh yang aneh, faktanya ada banyak sekali produk-produk yang memiliki karakteristik seperti itu, tidak punya data dan harus dites terlebih dahulu.
  • Untuk produk yang sudah punya “pasar”, pola yang sama dapat digunakan untuk kebutuhan scaling yang lebih berani.
  • 3 hari adalah waktu minimum yang diperlukan untuk “membeli” data dari Facebook. Faktanya, terkadang dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk memperolehnya.
  • Promosi hanyalah satu diantara sekian banyak faktor. Jika ingin ‘membakar’ uang menggunakan ads, tak ada pilihan selain menyempurnakan seluruh faktor yang bermain di dalam sebuah penjualan. Bayangkan betapa percumanya mendatangkan banyak pengunjung pada sebuah toko yang tidak layak dan tidak siap untuk dikunjungi.
  • Setiap marketer dan setiap produk adalah unik. Tidak ada rumus baku yang dapat menentukan apakah sebuah campaign akan berhasil atau tidak. Pola memang dapat diikuti, tetapi kesuksesan hanya akan terjadi bagi mereka yang memiliki plan matang, action, trial-error dan persisten luar biasa.
  • Feeeling itu penting. Tetapi dalam online advertising, gunakan hanya secukupnya saja. Marketer yang baik harus selalu bergerak hanya berdasarkan data dan data.

until next time,

RA